PONTIANAK - Karena cinta mati dan tak mau dicerai, Paulyanto (41) ditemukan tewas tergantung oleh anaknya sendiri, di ruang tamu rumahnya di Gang Anugrah Perdana, Jalan Perdana, Kecamatan Pontianak Selatan, Kamis (7/8/2014).
Sebelum mengakhiri hidup dengan menggantung diri dengan tali, Paulyanto menulis pesan kematiannya di sebuah kertas.
“Maafkan saya, sebenarnya saya masih mencintai istri saya. Dari pada di cerai bagus bunuh diri saja. Maafkan saya semuanya, kalau cerai masih bisa ketemu kalau mati ga bisa ketemu. Jagalah anak-anak kita, mungkin sama mamanya bisa berhasil kalau sama bapak nya ga bisa berhasil. Jangan sakit kasihan anak-anak kita.Mungkin hati mu senang kalau saya mati, biar senang. Kalau ada saya bikin susah saja. Tolong kalau saya mati, dikubur dekat yang dua tu selamat tinggal semuanya.”
Kasubag Humas Polresta Pontianak, Ipda Harsoyo, mengatakan bahwa pertama kali yang menemukan korban terjerat tali di lehernya adalah anaknya yang bernama Fikri yang masih kelas empat SD. "Memang benar telah terjadi peristiwa bunuh diri, yang menemukan pertama adalah anaknya sendiri bernama Fikri," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (7/8/2014)
.
Harsoyo memaparkan, pagi itu anaknya hendak mengambil pakaian sekolah, sekira pukul 06.15 WIB. Namun terlihat ayahnya sudah tergantung di ruang tamu dengan tali nilon. Menurut Harsoyo, informasi dari mertua korban atas nama Samiun (56), menantunya sering mabuk dan pulang subuh.
"Korban sering mabuk-mabukan. Jika pulang juga sering ngamuk sama istrinya," kata Harsoyo.
Ia menjelaskan motif bunuh diri karena masalah keluarga. "Diindikasi bunuh diri ini karena permasalahan keluarga. Sehingga dari pihak keluarga menolak untuk dilakukan autopsi," pungkasnya.
No comments:
Post a Comment