BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berita
tentang kerajaan sambas dapat di temui dalam kitab Negarakertagama yang
di tulis pada tahun 1365 oleh empu prapanca. Sumber menyebutkan sambas
sebagai daerah atau kerajaan yang di bawah kerajaan majapahit.
Keterangan tersebut tertuangdalam pupuh XII yang tersembunyi.
“Iwas
dengan samudra serta lamuri, batam, lampung, dan juga barus itulah
terutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di daerah
tanjung pura: Kapuas, katingan, sampit, kota lingga, kota waringin,
sambas, laway ikut tersebut”.
Dari
bukti sejarah lain seperti tulisan van dermeulen dari buku plomoleus
dias yang berjudul geogrepia bahwa pada awal abad masehi telah di
katahui daerah-daerah Kalimantan seperti Sambas, Mempawah, Sukadana, dan
Tanjung Pura telah berpenghuni. Ada pun sumber sejarah lain yakni
kronik Dinasti Sung (960-tenta1278) yang telah menyatakan keberadaan
bagian barat Kalimantan yang di sebut dengan “Uni”.
Riwayat
kerajaan dan para Sultan Sambas berdasarkan catatan tertulis dan benda
peninggalan secara jelas dimulai pada awal berdirinya kesultanan Islam
Sambas pada awal abad ke-17. Sumber tertulis utama tentang kesultanan
Sambas, adalah tulisan Sultan Muhammad Syafiuddin II berjudul “Silsilah
Raja-raja Sambas” yang tertulis sendiri oleh Sultan Sambas ke-13 itu
pada bulan Desember 1903.
Sumber
tertulis utama dari Negara Brunai Darussalam adalah kitab “Silsilah
Raja-Raja Brunai”.Sumber sejarah kesultanan Sambas berkaitan dengan
kerajaan Brunai telah diterbitkan dalam tiga buah buku oleh Pusat
sejarah Brunai. Ketiga buku tersebut adalah:
1. “Tarsilah Brunai,sejarah awal dan perkembangan islam”(thn 1990).
2. “Raja tengah, Sultan Serawak Pertama dan Terakhir”(thn 1995).
3. “Tarsilah Brunai, Zaman kegemilangan dan Kemashuran”(thn 1997).
Sampai
sejauh mana pengaruh kerajaan Majapahit terhadap pertumbuhan dan
perkembangan kerajaan Sambas belum dapat di ketahui karna belum banyak
di temukan data-data sejarah. Namun terdapat suatu peninggalan yang
hingga kini masih dapat dilihat, yakni makam Ratu Sepudak di situs Kota
Lama, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas. Ratu Sepudak merupakan raja
besar dari kerajaan Sambas pra-islam yang diyakini sebagai keturunan
dentara majapahit yang masih menganut agama hindu. Ratu Sepudak
mempunyai dua orang puteri bernama Raden Ayu Anom yang menikah dengan
Raden Prabu Kencana, keponakan dari Ratu Sepudak sendiri, serta Raden
Mas Ayu Bungsu yang menikah dengan Raden Sulaiman putera tertua dari
Raja Tengah dari kerajaan Brunei.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Asal Mula Kesultanan Sambas
2. Peristiwa-Peristiwa Penting masa Kesultanan Sambas
3. Raja-Raja yang menduduki Tahta Kerajaan Sambas
4. Bukti-Bukti Peninggalan Kesultanan Sambas
C. TUJUAN
1. Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Sejarah Lokal.
2. Mahasiswa dapat mempelajari lebih jauh mengenai Kesultanan Sambas.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan bagaimana perkembangan dari Kesultan Sambas.
BAB II
PEMBAHASAN MATERI
KESULTANAN SAMBAS
A. ASAL MULA KESULTANAN SAMBAS
Sejarah
tentang asal-usul Kesultanan Sambas tidak terlepas dari Kerajaan Brunei
Darussalam. Pada zaman dahulu, dinegeri Brunei Darussalam, bertahtalah
seorang raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Mudammad. Setelah beliau
wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara
turun-temurun. Sampailah pada keturunan yang kesembilan yaitu bernama
Sultan Abdul Jalil Akbar.
Sultan
Abdul Jalil Akbar ini mempunyai putera yang bernama Sultan Raja Tengah.
Sultan Raja Tengah ini, Pada suatu ketika datang ke kerajaan Tanjung
Pura. Karena tabiat, prilaku serta tata kramanya baik dan sesuai dengan
keadaan di Kerajaan Tanjung Pura dan sekitarnya maka kedatangan Sultan
Raja Tengah diterima dengan baik oleh Raja Tanjung Pura. Karena
tabiatnya yang baik itu pula maka beliau sangat disegani Raja Tanjung
Pura serta rakyatnya. Bahkan Raja Tanjung Pura merelakan puterinya yang
bernama Ratu Surya menikah dengan Sultan Raja Tengah. Perkawinan antara
sultan raja tengah dan ratu surya, dikaruniai tiga orang putera, yaitu
raden sulaiman,pangeran Bahauddin serta Pangeran Abdul Wahab. Raden
Sulaiman inilah pendiri kerajaan islam sambas. Jauh sebelum Sultan Raja
Tengah ini datang dari Brunei ke Tanjungpura dan akhirnya ke Sambas, di
Sambas telah berdiri Kerajaan Hindu yang diperintah oleh seorang Ratu
yang bernama Ratu Sepudak. Baginda Ratu Sepudak ini adalah keturunan
dari Kerajaan Majapahit di pulau Jawa.
Pada
saat Ratu Sepudak berkuasa, pusat pemerintahannya terletak di kota Lama
(kira-kira 36 km dari kota Sambas sekarang ), tepatnya dikecamatan
Teluk Keramat. Baginda Ratu Sepudak telah dikaruniai oleh dua orang
puteri. Puteri yang sulung dikawinkan dengan keponakan Ratu Sepudak yang
bernama Raden Prabu Kencana. Dialah yang ditetapkan sebagai pengganti
raja apabila Ratu Sepundak wafat. Ketika Ratu Sepudak memerintahkan
inilah datang Raja Tengah beserta rombongan diSambas. Karena budi
pekertinyanya yang baik itulan, maka mereka diterima dengan baik pula
oleh Ratu Sepudak dan rakyanya. Sejak saat itu pula, banyak rakyat
Sambas yang menjadi pengikutnya dan memeluk agama Islam. Tidak berapa
lama setelah Raja Tengah dan rombongan berada di Sambas, Ratu Sepudak
wafat. Menantunya yang bernama Raden Prabu Kencana naik tahta dan
memerintah dengan gelar Ratu anom Kesuma Yudha. Pada waktu bersamaan,
Puturi Ratu Sepudak yang kedua yang bernama Puteri Mas Ayu bungsu kawin
dengan Raden Sulaiman (Putera Sulung Raja Tengah) hasil perkawinanya
dengan putera yang Ratu Surya). Perkawinan antara Puteri
Mas Ayu Bungsu dengan Raden Sulaiman ini dikaruniai seorang putera yang
diberi nama Raden Bima.
Pada
saat Ratu Anom Kesuma Yudha memerintah,beliau mengangkat pejabat
pejabat itu kerajaan.Pejabat-pejabat itu tugasnya membantu Raja dalam
menjalankan roda pemerintahan. Adapun yang ditunjuk sebagai pejabat
kerajaan itu antara lain, adik kandung raja yang bernama Pangeran
Mangkurat. Dia diangkat sebagai wasir utama. Tugas wasir itu adalah
mengurus harta benda kerajaan. Tetapai,kadang-kadang mewakili raja
apabila raja tidak ada di tempat. Sedangkan wasir kedua ditunjukkan
raden Sulaiman. Tugas wasir kedua ini adalah mengurus
segala sesuatu yang menyangkut dalam dan luar negeri. Dalam menjalankan
tugasnya,Raden Sulaiman masih dibantu oleh Menteri-Menteri dan petinggi
lainnya.
Sejak
Raden Sulaiman ditunjuk sebagai wasir kedua di kerajaan ini, kegiatan
dan pengaruh Raden Sulaiman dalam mengembangkan agama islam semakin
meningkat. Penduduk Kota Lama yang semula beragama Hindu banyak
berpindah memeluk agama islam. Hal ini menyebabkan Pangeran Mangkurat
iri hati. Selain itu rakyat lebih banyak yang menghargai Raden Sulaiman
daripada Pangeran Mangkurat. Hal itulah semakin membuat Pangeran sakit
hati.
Suatu
ketika Pangeran Maangkurat dan prajurit-prajuritnya yang masih beragama
Hindu membuat huru-hara. Mereka membunuh penduduk yang beragama islam
dan membakar mesjid-mesjid. Salah satu yang terbunuh adalah pembantu
Raden Sulaiman yang bernama Kyai Satya Bakti. Kejadian ini dilaporkan
kepada raja, namun tidak ditanggapinya. Suasana kerajaan semakin keruh,
Pangeran Mangkurat masih belum puas membuat gara-gara itu. Melihat agama
Islam terus berkembang dan penduduk yang beragama Hindu semakin
merosot, maka ia memaksa istri Raden Sulaiman yang sudah beragama islam
berbalik ke agama Hindu. Tetapi paksaan itu tidak deperdulikannya justru
Putri Ayu Mas Bungsu semakin kuat imannya terhadap agama Islam. Karena
maksud Pangeran Mangkurat tidak kesampaian, maka ia menghadap Ratu Anom
Kesuma Yudha. Ia menantang pada Ratu Anom untuk memilih dua pilihan.
Memecat Raden Sulaiman atau Pangeran Mangkurat sendiri akan mengundurkan
diri. Keadaan ini membuat Raden Anom serba salah.
Menyadari
hal itu, Raden Sulaiman cepat mengambil suatu keputusan. Daripada
terjadi kesalahpahaman terus dikerajaan, Raden Sulaiman beserta istrinya
dan keluarganya memilh meninggalkan Kota Lama. Mereka menuju kedaerah
baru dan mendirikan sebuah kota yang diberi nama Kota Bangun. Karena
Raden Sulaiman mempunyai pengaruh yang kuat didaerah Kota Lama, maka
banyak pengikutnya yang mengiringi keberangkatannya. Mereka
beramai-ramai ikut pindah ke Kota Bangun. Bahkan orang-orang yang belum
memeluk agama islam pun ikut juga pindah, akibatnya Kota Lama menjadi
lengang dan sunyi.
Setelah
beberapa waktu Raden Sulaiman berada di Kota Bangun, atas anjuran para
pembantu dan atas kesepakatan bersama dengan Ratu Anom Kesuma Yudha,
beliau dan pengikut-pengikutnya pindah lagi menuju kota Bandir.
Sementara itu, Ratu Anom Kesuma Yudha sendiri berangkat meninggalkan
Kota Lama menuju kota Selakau. Didaerah inilah mereka mendirikan
kerajaan yang ibukota pemerintahannya diberi nama Kota Balai Pinang.
Tidak lama setelah berada dikota Balai pinang, Ratu Anom Kesuma Yudha
meninggal dunia. Begitu juga dengan Pangeran Mangkurat. Maka putra Ratu
Anom yang bernama Raden Bekut diangkat menjadi raja menggantikan
ayahnya. Setelah menjadi raja, beliau memakai gelar panembahan kota
Balai. Raden Bekut yang bergelar pangeran kota balai mempunyai seorang
istri yang bernama Mas Ayu Krontiko (salah seorang puteri dari Pangeran
Mangkurt).
Setelah
Raden Bekut meninggal, tahta kerajaan digantikan oleh putera mahkota
yang bernama Raden Mas Dungun. Raden Mas Dungun inilah yang merupakan
panembahan terakhir kota Balai Pinang. Kerajaan ini berakhir karena
utusan Raden Sulaiman menjemput mereka kembli ke Sambas. Kira” 3 tahun
Raden Sulaiman dan pengikutnya tinggal di kota Bandir. Atas hasil
mufakat antara Raden Sulaiman dengan para pembantunya, mereka pindah
lagi meninggalkan kota Bandir dan mendirikan sebuah kerajaan yang pusat
pemerintahannya di Lubuk Madung yang terletak di persimpangan 3 sungai
yaitu sungai sambas kecil, sungai subah dan sungai tebarau tempat ini
disebut muara ulakan kemudian kerataon dibangun disini yang masih
berdiri sampai sekarang.
Ditempat
inilah Raden Sulaiman dinobatkan menjadi sultan yang pertama dikerajaan
sambas. Sejak beliau naik tahta beliau memakai gelar Muhammad
Syafeiuddin I. Sejak Raden Sulaiman menjadi raja di kerajaan sambas ini
saudara-saudara kandungnya juga diberi kedudukan dan pangkat. Raden
Bahauddin diberi gelar pangeran bendahara Sri Maharaja. Sedangkan
adiknya yang bernama Pangeran Abdul Wahab diberi gelar Pangeran
Tumenggung Jaya Kusuma. Putera Raden Sulaiman yang bernama Raden Bima,
semakin hari semakin besar dan mempunyai watak seperti ayahnya dan
diharapkan menggantikan kedudukan Raden Sulaiman apabila raja itu wafat.
Setelah
cukup dewasa, beliau disuruh ayahnya pergi ke Sukadana untuk ziarah
kaum keluarganya. Di Sukadana, ia disambut dengan baik oleh raja
Sukadana. Pada saat itu Raden Bima dikawinkan dengan adik bungsu Sultan
Zainuddin bernama R. Meliau. Nama ini diambil dari nama sebuah sungai di
Sukadana. Beberapa lama Raden Bima diSukadana, ia dan keluarganya pamit
kepada Sultan Zainuddin untuk kembali kesambas. Tidak lama kemudian
setelah berada di Sambas beliau disuruh Raden Sulaiman pergi ke Brunei
menghadap keluarganya yang dituju yaitu Sultan Abdul Jalil Akbar.
Kedatangan beliau mendapat sambutan yang sangat baik dan meriah. Oleh
Sultan Abdul Jalil Akbar , Raden Bima dikaruniai nama Muhammad Tajuddin.
Sekembalinya
Raden Bima dari Brunei, Raden Sulaiman mengundurkan diri menduduki
tahta kerajaan. Tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Raden Bima
dan bergelar Sultan Muhammad Tajuddin. Bersamaan dengan itu, Raden Ahmad
(Putera dari Raden Abdul Wahab) dilantik menjadi Pangeran Bendahara Sri
Maharaja. Dua tahun kemudian Raden Sulaiman wafat.
Setelah
beberapa lama Sultan Tajuddin memerintah, beliau meninggal dunia.
Pemerintahan dilanjutkan oelh putranya yang bernama Raden Meliau yang
bergelar Sultan Umar Akamuddin 1. Sultan Umar dalam menjalankan
pemerintahan menurut dasar yang permaisurinya diberi gelar Ratu Adil.
Dan itu sebabnya maka dalam sejarah Sambas dalam pemerintahan ini
terkenal dengan Sultan Marhum Adil.
Wafatnya
Sultan Umar Akamuddin 1 tahta kerajaan diserahkan kepada putranya yang
bernama Raden Bungsu. Beliau setelah naik tahta bergelar Sultan Abubakar
Kamaluddin. Tidak ada peristiwa atau hal yang menarik dalam
pemerintahan raja ini.
Setelah
Sultan Abubakar Kamaludin wafat, tahta kerajaan diduduki oleh Sultan
Abubakar Tajuddin 1. Kemudian diganti oleh Raden Pasu. Raden Pasu ini
lebih dikenal dengan nama Pangeran Anom. Sejak diangkat menjadi raja,
beliau bergelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin 1.
Pada saat pemerintahan raja ini, beliau mengangkat wakil-wakil raja. Yang menduduki sebagai wakil raja yaitu; Sultan Usman Kamaluddin dan Sultan Umar Akamuddin III.
Dalam
sejarah kerajaan Sambas, Pangeran Anom dikenal sebagai orang yang gagah
berani. Beliau mempunyai kegemaran merantau,sambil mengarungi samudra
luas. Tujuannya ingin menupas perompak-perompak lanun (pembajak laut
yang sangat kejam) yang merugikan lalu lintas perdangan
antara negeri sambas dengan negeri lain. Pulau Lemukutan(pulau kecil di
perairan selat karimata) dijadikan daerah pertahanan. Karena letaknya
sangat strategis untuk perang, maka didirikanlah sebuah benteng untuk
menghadang musuh.
Setelah memerintahkan kira-kira 13 tahun, Sultan Muhammad Ali syafeiuddin I wafat. Tahta kerajaan jatuh pada
Putera Mahkota yang bernama Raden Iskak. Beliau diberi gelar Pangeran
Ratu Natakusuma. Tetapi karena waktu Raden Iskak masih berusia 6 (enam)
tahun, sehingga ia dipandang belum cukup umur untuk memegang tampuk
pemerintahan. Oleh sebab itu roda pemerintahan diwakilkan kepada Sultan
Usman Kamaludin.
Kira-kira
3 tahun Sultan Usman Kamaluddin menjalankan roda pemerintahan,
beliaupun wafat. Maka tahta kerajaan dilimpahkan kepada Sultan Umar
Akamuddin III. Karena Raden Iskak saat itu juga belum cukup dewasa.
Setalah
sultan Umar Akamuddin III memerintah kira-kira 14 tahun, beliau wafat,
maka tahta kerajaan diserahkan kembali kepada Putera Mahkota. Kebetulan
pada saat itu ia sudah cukup dewasa untuk memegang tampuk pemerintahan.
Sejak
menduduki tahta kerajaan beliau memakai gelar Sultan Abubakar Tajuddin
II. Pada saat itu beliau menetapkan puteranya yang bernama Syafeiuddin
sebagai putera Mahkota. Ia diberi gelar Pangeran Adipati
Pada
tahun 1855, oleh pemerintahan Belanda, Sang Raja diasingkan ke Jawa
Begitu pula Putera Mahkota juga diberangkatkan ke Jawa untuk belajar.
Maka sebagai wakil yang menjalankan roda pemerintahan pemerintahan
adalah raden Toko (pangeran Ratu Mangkunegara). Beliau bergelar Sultan
Umar Kamaluddin.
Setelah
6 tahun belajar di jawa. Pangeran adipati pulang ke Sambas pada tahun
1861 dia diangkat sebagai Sultan Muda di Kerajaan Sambas. Baru 5 tahun
berikutnya, beliau diangkat menjadi Sultan dengan gelar Sultan Muhammad
Syafeiuddin II.
Pada
masa pemerintahan Sultan ini, banyak terjadi kemajuan-kemajuan di
Kerajaan Sambas di antaranya; berdirinya sebuah Sekolah Umun, Masjid,
Agama. Sekolah Bumiputera, dan sebagainya. Selain itu juga dibangun
jalan dari Sambas ke pemangkat, dan dari Pemangkat, dan dari Singkawang
ke Bengkayang. Dibangun juga saluran-saluran air yang dipinggirnya
ditanami pohon-pohonan . Suatu hal yang yang tidak pernah dikerjakan
oleh raja-raja sebelumnya adalah membangun tempat peristirahatan. Saat
itu beliau membangun tempat peristirahatannya di danau sebedang(jarak danau ini kira-kira 16 Km dari kota Sambas kea rah Singkawang).
Sultan
Muhammad Syafeiuddin II mempunyai 2 orang istri. Dari istri pertama
yang bernama Ratu Anom Kesumaningrat, beliau mempunyai seorang putera
yang bernama Raden Ahmad. Beliaulah yang diangkat sebagai Putera
Mahkota. Sedangkan dari istri kedua bernama Encik Nana mereka dikaruniai
juga seorang putera yang diberi nama Muhammad Aryadinigrat. Sebelum
menjabat sebagai raja, Putera Mahkota itu wafat mendahului ayahnya.
Kemudian ditunjuklah anaknya sebagai penggantinya, yaitu Muhammad Mulia
Ibrahim.
Pada
saat Raden Ahmad meninggal, Sultan Muhammad Syafeiuddin II telah
berkuasa selama 56 tahun. Beliau merasa sudah lanjut usia. Maka
dinobatkanlah Raden Muhammad Aryadiningrat sebagai wakil raja dengan
gelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin II dan masa pemerintahannya
kira-kira 4 tahun kemudian beliau wafat. Roda pemerintahan diserahkan
kepada Sultan Mulia Ibrahim Syafeiuddin.
Pada
masa pemerintahan raja inilah, Jepang datang di Sambas. Kekejaman
Jepang merubah semuanya. Jepang mengadakan pembantaian massal diseluruh
daerah Kalimantan Barat. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim adalah salah
seorang yang menjadi korban keganasan Jepang. Sejak saat itu, berakhir
pulalah kekuasaan kerajaan di Sambas.
B. PERISTIWA-PERISTIWA PENTING MASA KESULTANAN SAMBAS
Pada
masa pemerintahan Sultan Abubakar Tajuddin I dan Sultan-Sultan
berikutnya telah terjadi peristiwa-peristiwa penting antara lain:
1. Perang Melawan Siak
Siak
atau nama lengkapnya Siak Sri Indrapura adalah nama sebuah kerajaan di
Riau, Sumatera. Pada tahun 1779, raja Ismail dari Siak bersama bala
tentaranya menyerang Sambas. Terjadilah peperangan yang menimbulkan
banyak korban dikedua belah pihak. Dibawah pimpinan Pangeran Anom,
akhirnya serangan ini bisa dipatahkan.
Tentara-tentara
dari Siak berhasil dipukul mundur oleh pahlawan-pahlawan Sambas. Pada
tahun 1801, dengan angkatan perang yang lebih besar dan persenjataan
yang lebih lengkap, Siak menyerang lagi yang dipimpin langsung oleh
Sultan Siak sendiri yaitu Said Ali. Serangan yang kedua ini lebih hebat
lagi. Permaisuri Siak yang terkenal gagah berani ikut berperang di sini.
Ia maju menyerbu laksana seekor harimau sehingga mengakibatkan banyak
korban di pihak sambas. Melihat pasukannya kocar-kacir, Pangeran Anom
menyerbu ke Medan pertempuran. Beliau menembakkan sebuah peluru “
Petunang “ yang menyambar seperti petir dan tepat mengenai sasarannya.
Permaisuri Siak meninggal pada waktu itu juga. Pangeran Aru dari Siak
juga tewas di tangan Pangeran Lawang Tendi dari Sambas.
Dengan
meninggalnya Permaisuri Siak, angkatan perang Siak terpecah belah,
masing-masing menyelamatkan diri dan kembali ke Siak. Kemenangan kembali
ada di pihak Kerajaan Sambas.
2. Perselisihan dengan Mempawah
Peristiwa
ini terjadi pada tahun 1799.. Semua ini karena ada pengertian dari
kedua belah pihak. Sebagai tindak lanjut, diadakan perjanjian antar
keduanya. Adapun isi perjanjian itu adalah perselisihan dianggap selesai
dan keduanya tidak akan saling menyerang.
3. Perang dengan Cina
Daerah
Sambas terkenal kaya akan tambang emas sehingga banyak orang dari luar
negeri yang datang ke Sambas untuk mencari emas tersebut terutama
orang-orang Cina. Para pencari emas dari bangsa Cina mendirikan beberapa
kongsi, antara lain “Thai Kong” yang meliputi daerah
Lara, Lumar, dan Menterado. Kongsi yang lain adalah kongsi “Sam Thu
Kiau” yang meliputi daerah Pemangkat, Seminis dan Sabawi.
Produksi
yang diperoleh kongsi-kongsi itu semakin hari semakin meningkat.
Pembayaran upeti (pajak) ke kerajaan berjalan lancer. Pendapatan
kerajaan semakin bertambah dan hal ini mengakibatkan rakyat pun hidup
dengan makmur. Pada tahun 1795, terjadi persengketaan antara kedua
kongsi tersebut. Persengketaan itu akhirnya menjadi perang saudara. Sam
Thu Kiau minta bantuan kepada Pangeran Anom dan berjanji akan setia dan
tidak mendurhakai rakyat Sambas. Dengan pasukan gabungan yang dipimpin
oleh Pangeran Anom, pasukan Thai Kong dapat dikalahkan. Tetapi nasib
malang bagi Kerajaan Sambas karena dalam pertempuran itu telah gugur
seorang Pangeran yang bernama Teuku Tambo. Teuku Tambo adalah Panglima
Perang Sultan Siak yang menyerah kepada Pangeran Anom.
4. Perang dengan Inggris
Pada tahun 1789 Imam
Yacub disuruh oleh Sultan Akamuddin II pergi ke Jawa untuk membuat
jambangan emas. Karena diserang angin ribut, maka perahunya kesasar di
perairan Banjarmasin. Disnilah Imam Yacub dan anak buahnya dibunuh dan
semua barang-barangnya dirampok oleh tentara-tentara Banjarmasin.
Melihat hal itu, Pangeran Anom memimpin angkatan perangnya untuk
menyerang ke Banjarmasin.
Dalam
perjalanan Pangeran Anom ke Banjarmasin telah terjadi suatu peperangan
dengan sebuah kapal perang Inggris. Tentara Inggris dapat dikalahkan dan
kapalnya ditenggelamkan. Pada tahun 1812 sewaktu Pangeran Anom
berkunjung ke Serawak, kapal perang Inggris menyerang Sambas.
Penyerangan ini sebagai balasan atas tenggelamnya kapal Inggris di
perairan Banjarmasin tahun 1789 itu. Karena Pangeran Anom tidak
ditempat, maka Pangeran Muda (Putera Pangeran Anom) ditunjuk memimpin
angkatan perang Sambas menghadapi musuh. Dengan penjagaan yang ketat dan
kewaspadaan yang tinggi, tentara Inggris tidak berhasil menembus
pertahanan tentara Sambas.akhirnya tentara inggris menyelinap dan membujuk salah seorang rakyat sambas untuk menunjukan tempat pertahanan tentara sambas yang lemah. Karena telah di suap dengan uang, ada rakyat yang menunjukan jalan menuju kota sambas dengan aman. Tentara inggris mendaratkan pasukan nya di kartiasa, kemudian di tepi sungai kecil dan akhirnya masuk ke dalam kota sambas.
Kedatangan pasukan ini menimbulkan peperang, sayang sekali pada perang ini pasukan sambas bisa di kalahkan. Banyak panglima perang dan rakyat yang gugur. Termasuk yang gugur dalam peperangan ini adalah Pangeran Muda. Tentara inggris terus masuk menyusuri sungai sambas kecil hingga
ke muara sungai Teberau dan membakar kampong nya. Kampong yang pernah
di bakar pada waktu itu, sekarang di namakan kampong Angus. Pada tahun
1813 sambas menyerah pada Inggris.
5. Perang dengan Cina II
Pada tahun 1850, dimasa pemerintahan Sultan Abubakar Tajuddin II, seluruh pemilik tambang emas yang tergabung dalam kongsi-kongsi menggabungkan diri menjadi satu, mereka tidak mau membayar upeti pada Sultan. Bahkan mereka melancarkan seranga untuk menguasai negeri sambas, karena serangan itu tidak bisa di tumpas, atas hasil musyawarah sultan sambas meminta bantuan
kepada Belanda. Pada Tahun 1851 bala bantuan Belanda datang ke sambas
pasukan belanda ini di pimpin oleh Letkol Zorg.benteng Sam Thukiau di
pemangkat berhasil di rebut dalam peperangan merebut benteng Sam Thu Kiau tersebut Letkol. Zorg tewas di tangan pasukan cina dia di makam kan di bukit panembungan sambas. Pemberontakan cina masih berlanjut, pada tahun 1854 di datangkan lagi pasukan belanda yang di pimpin oleh letkol Anderssen. Dengan bantuan ini, cina bisa di kalahkan dan kongsi-kongsi cina itu akhirnya bubar.
C. RAJA-RAJA YANG MENDUDUKI TAHTA KERAJAAN SAMBAS
Raja-raja
yang pernah menduduki tahat kerajaan Sambas dibagi menjadi 2 jaman,
yaitu: zaman Hindu, beribukota di Kota Lama dan zaman Islam, beribukota
di Muara Ulakkan:
Adapun raja-raja yang berkuasa pada jaman Hindu antara lain:
1. Ratu Sepudak.
2. Pangeran Prabu Kencana, bergelar Ratu Anom Kusuma Yudha.
3. Raden Bekut, bergelar Panembahan Kota Balai.
4. Raden Mas Dungun.
Sedangkan Raja-raja yang berkuasa pada jaman Islam antara lain:
1. Raden Sulaiman, bergelar Sultan Muhammad Syafeiuddin I
2. Raden Bima, bergelar Sultan Muhammad Tajuddin
3. Raden Mulia, bergelar Sultan Umar Akamuddin I
4. Raden Bungsu, bergelar Sultan Abubakar Kamaluddin
5. Raden Jamak, bergelar Sultan Umar Akamuddin II
6. Sultan Muda Ahmad Tajuddin
7. Sultan Abubakar Tajuddin I
8. Raden Pasu, bergelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I
9. Raden Samba, bergelar Sultan Usman Kamaluddin (wakil)
10. Raden Semar, bergelar Sultan Umar Akamuddin III (wakil)
11. Pangeran Ratu Natakusuma bergelar Sultan Abubakar Tajuddin II
12. Raden Toko, bergelar Sultan Umar Kamaluddin
13. Raden Syafeiuddin, bergelar Sultan Muhammad Syafeiuddin II
14. Raden Muhammad Aryadiningrat, bergelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin II
15. Raden Muhammad Mulia Ibrahim, bergelar Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafeiuddin.
D. BUKTI-BUKTI PENINGGALAN KESULTANAN SAMBAS
Peninggalan Kerajaan Sambas yang sampai sekarang masih bisa dlihat adalah:
1) Kota Lama merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Sambas pra-Islam yang salah satu raja terbesr adalah Ratu Sepundak.
2) Kota
Bangun merupakan tempat dimana Raja Tengah menambatkan perahu dan
membangun pemukiman termasuk sebuah masjid untuk keluarga dan
rombongannya. Masjid kini telah dibangun kembali sehingga bentuk
bangunan asli sudah tidak ada lagi. Masjid baru yang dibangun diatas
masjid lama tersebut dikenal dengan nama Masjid Raden Sulaiaman.
3) Kota
Bandir merupakan awal tempat tinggal Raden Sulaiaman selama tiga
tahun,kota sekarang bernama Desa mensemat, kecamatan saljad terdapat
makam keramat bantilan, yaitu salah satu tertinggi kerajaan kerajaan
Sambas yang pernah menolong sulaiman pada waktu pergi dari kota lama.
Begitu juga makam tua didaerah suak nibung, desa segerunding dikecamatan
saljad yang belum diketahui namanya. Bila jika dikaitkan dengan nama
desa, maka diduga makam tersebut adalah makam dari petinggi kerajaan
sambas yang setia kepada Raden Sulaiman.
4) Lubuk
Madung memiliki cerita historis, selain sebagai pusat pemerinahan
kesultanan sambas yang pertama, ubug madung juga merupakan tempat dimana
Raden sulaiman dinobatkan menjadi sultan dan bersama keluargany dan
pengikutnya menyebabkan agama islam. Dilubug madung sekarang bernama
desa lubug dagang kemudian kemudian sambas dapat dijumpai makam-makam
tua yang merupakan makam para pejabat.
5) Muara
Ulakan menyimpan paling banyak peninggalan dari kesultanan sambas.
Dipinggir utama muara ulakan inilah berdiri jami yang bernama masji
Agung Jami’sultan Muhammad Tsafiudin II yang dibangun oleh Sultan
Muhammad Tsafiudin pada tanggal 1 oktober 1885 M. disamping Masjid
berdiri sebuah istana Alwatzikhobila, istana kesultanan Sambas dibangun
oleh sultan Muhammad Tsafiudin II yang memerintah tahun 1866-1922 M.
Namun istana tersebut sudah mengalami perubahan dan istana kita temui sekarang adalah bangunan istana baru yang didirikan oleh Muhmmad mula Ibahim Tsafiudin pada 1933.
6) Tiang
Bendera, tiang bendera tersebut terdapat ditengah alun-alun utama
memiliki tiang bendera yang bentuknya seperti tiang perahu layar dan
dibawahnya terdapat tiga buah meriam. Meriam melambangkan bahwa kerajan
Sambas pernah mengalami kejayaan dan memiliki angktan laut yang kuat
pada masa pemerintahan Sultan Abubakar Tajudin I ( Marhum Jangut ) yang
memerintahkan pada 1793-1815 dengan panglima nya bernama pangeran Anom (
Marhum Anom ) yang saat diangkat menjadi raja bergelar Sultan Muhammad
Ali Tsafiuddin I pada Mulia Ibrahim pada 1815-1828
7) Makam-makam
Sultan-Sultan Sambas tersebar dibeberapa lokasi yang semuanya berada
dikawasan Keraton Kesultanan Sambas, namun ada dua lokasi pemakaman
dimana sultan dimakamkan pertama diarea jalan Marmun dan jalan
Sukamantri yang terletak disebelah utara keraton dapat ditemui beberpa
makam antara lain makam Raden Bima ( Sultan Muhammad Tajuddin ), Raden
Semar (Sultan Umar Aqamaddin III ), Raden Ishak (sultan Abubakar Tajudin
II), Rade Millam (Sultan Umar Aqamaddin II), hingga Pangeran Ratu
Winata Kusuma. Kedua di jalan Sultan Muhammad Tsafiudin yang terletak
disebelah timur keraton dapat ditemui makam Raden Bungsu dan Raden
Afiudin.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Berdasarkan silsilah
raja-raja kesutanan Sambas tulisan Sultan Tsafiudin II disebutkan sultan
pertama Sambas adalah Raden Sulaiman yang bergelar Sultan Muhammad
Tsafiuddin. Raden Sulaiman merupakan anak dari Raja Tengah dari Kerajaan
Brunei dan putera Surya Kesuma dari Kerajaan Sukadana.
Raja
Tengah berkunjung ke Sambas didasari oleh cerita bibinya saat ia berada
di Johor yang menyatakan sambas adalah daerah tambang emas dan
merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Johor. Tengah mewujudkan
keinginannya dengan membawa keluarganya pergi ke Sambas. Kedatangannya
disambut baik oleh Ratu Sepudak, raja Sambas pada saat itu. Bahkan
kemudian mereka menikahkan anak mereka yakni Raden Sulaiman putera raja
Tengah dengan Puteri Mas Ayu Bungsu puteri Ratu Sepundak.
Berdasarkan
pendapat para ahli sejarah, Santubong pernah menjadi pusat pemerintahan
Raja Tengah di Serawak. Selain itu diSantubong ditemukan tambang emas
sesuai dengan berita cina yang menyebutkan bahwa puni atau Brunei dan
San Hu Chung Santubong atau disebut juga Sawaku dalam Negarakertagama
sebagai penghasil emas.
Keterangan
mengenai Raden Sulaiman bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin yang
merupakan gelar pertama di kesultanan sambas maka dapat disimpulkan
bahwa Ratu Anom Kesuma Yuda dan Pangeran Mangkurat sebagai pengganti
Ratu Sepundak kemungkinan masih beragama Hindu. Jadi pendapat yang
menyatakan bahwa Ratu Sepudak merupakan Raja Hindu terakhir adalah
salah.
Adapun
mengenai Sultan Tsafiuddin walaupun dikenal sebagai penganut Islam yang
taat karena memiliki daerah Melayu, namun kehidupannya masih
dipengaruhi oleh budaya Hindu. Hal ini terbukti dari nama-nama
keturunannya yang masih menggunakan nama-nama tokoh
pewayangan seperti kisah Mahabarata, seperti Raden Bima yang setelah
dinobatkan bergelar Sultan Muhammad Tajuddin. Raden Bima lah yang
kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Sambas diMuara Ulakan
sampai sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
Macropedia [Online] Tersedia http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Sambas. html [30 September 2011].
Macropedia [Online] Tersedia http://www.sambas.go.id/wisata-budaya/1357-makam-kesultanan-sambas.html [30 September 2011].
Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Kalimantan Barat. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

No comments:
Post a Comment